twitter







Love in
Secondary
School










Hasan Nudin









 



Thank YOU
for reading this NOVEL













Prolog






PAGI yang cerah,
Seorang laki-laki tampan,
Turun dari sebuah bus biru yang selalu mengantarkannya ke sekolah.
Hari ini ia sangat gembira namun juga sedikit kesal, pasalnya hari ini adalah awal ia masuk pada tahun pelajaran yang baru. Mulai hari ini ia telah menjadi murid kelas 3 di SMP ternama di daerahnya.
Hal yang membuat nya kesal adalah dia sungguh tidak menyukai adik kelas, karena dari dulu adik kelasnya selalu melawan dan tidak menghormatinya. Ia khawatir adik-adik kelasnya yang baru pun sama seperti yang dulu, ia juga sangat malas bila mengingat dia telah kelas 3 dan harus menghadapi ujian akhir sekolah.
Namun bukan karena dia tidak ingin lulus, tetapi dia takut ia tidak lulus. Padahal untuk ukuran dirinya, dia termasuk orang yang pintar namun kurang percaya diri.
Tetapi ia senang karena bisa naik kelas dengan nilai yang cukup memuaskan dan peringkat yang lumayan bagus. Setidaknya ia selalu masuk dalam 10 besar kemarin.

















Satu


TEPAT sekali,
Saat lelaki itu memasuki pekarangan sekolahnya. Bel langsung berbunyi dan itu menandakan apel setiap pagi akan di lakukan. Semua bergegas menuju lapangan. Namun pemandangan baru tampak dari ujung kiri barisan, terlihat segerombolan murid baru yang masih menggunakan seragam putih-merah turut ikut berbaris dan mengikuti apel.
Mata lelaki itu terus tertuju pada murid-murid baru itu. Sekilas lelaki itu melihat seorang anak yang bertubuh gemuk dan hitam. Firasat buruk pun muncul dalam pikirannya. Apakah feeling nya tepat kali ini?
 “Hei van?” Tiba-tiba terdengar suara seorang pria memanggil namanya. “kenapa kamu terus memerhatikan murid-murid baru itu? Ada orang yang kamu kenal?” tanya rico dengan heran.
Rhivan terkejut dan langsung menoleh ke arahnya.
“Hemm… tidak ada. Aku cuma sedang memikirkan sesuatu, aku takut murid-murid baru itu akan sama kurang ajarnya seperti angkatan sebelumnya terhadap kita.” jawab Rhivan dengan nada rendah.
Rico menggeleng. “Kenapa kamu berfikir begitu?” katanya sambil mengangkat sebelah alis matanya.
Rico mencoba melihat murid-murid baru itu dan ia pun melihat seorang anak lelaki yang gemuk dan hitam, sama seperti yang di lihat oleh Rhivan.
 “Ooh itu yang kamu khawatirkan?”
“Tenang aja van, kan tidak semuanya akan melawan dan bersikap kurang ajar terhadap kita. Asalkan kita juga jangan terlalu baik dan mengalah ke mereka.” lanjut Rico.
Tanpa terasa apel telah selasai, Rhivan dan Rico tertinggal pengarahan pagi ini. Tiba-tiba Pak Sugianto selaku wakil kepala sekolah di SMP itu menyebutkan tiap-tiap nama murid dan kelasnya.
Rhivan dan Rico pun kebingungan dan tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Tiba saat nya nama Rhivan di panggil. Rhivan tersentak dan terkejut, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
Sebenarnya ini adalah saat di mana murid-murid akan tahu mereka akan masuk ke kelas mana. Pembagian memang di lakukan oleh para guru dan di sepakati oleh kepala sekolah. Namun Rhivan tidak menyadari hal itu, ia masih tetap kebingungan dan seperti orang linglung.
“Rhivan Hafiz Kurniawan! Apa yang sedang kamu lakukan? Cepat masuk ke barisan itu!” teriak pak Sugianto dengan tegas. Tanpa melihat lagi, Rhivan langsung masuk ke dalam barisan sambil menunduk kan kepala. Tetapi, tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan memanggil dirinya dengan lembut.
“Kak Rhivan! Kakak masuk ke barisan yang salah tuh. Itu barisan kelas 2B.” kata perempuan itu sambil tersenyum.
Rhivan kaget dan terkejut. Ia langsung menoleh pada perempuan itu dan melihat orang yang ada di sebelahnya, ternyata ia masuk ke dalam barisan adik kelasnya.
Bukan main malunya, wajah Rhivan pun langsung memerah. Dengan tergesa-gesa ia langsung masuk kedalam barisan yang benar  yakni kelas 3A.

* * *




Dua


SETELAH di bubarkan,
Semua murid langsung menuju ke kelasnya masing-masing. Sambil melangkah menuju kelasnya, Rhivan masih memikirkan kejadian yang barusan terjadi. Tetapi Rhivan masih belum tahu siapa orang yang telah menegurnya tadi, sebenarnya ia ingin berterimakasih kepadanya karena telah memberitahu keteledorannya. Namun, yang Rhivan tahu hanyalah dia adalah murid perempuan yang masih menggunakan pakaian putih-merah. Itu berarti dia adalah adik kelasnya yang baru.
Baru kali ini Rhivan merasa tidak semua adik kelasnya itu kurang ajar terhadap kakak kelas. Nyatanya masih ada adik kelas yang baik yang mau memberitahu kesalahan kakak kelasnya dengan lembut dan sopan.
Rhivan berencana untuk mencari tahu siapa orang yang telah menegurnya tadi, akhirnya Keesokan harinya, Rhivan bertanya kepada salah seorang temannya yang juga melihat perempuan itu, kebetulan ia memiiki teman yang juga murid baru di sekolahnya, namanya Jonathan.
Jonathan adalah tetangga Rhivan yang juga tinggal satu komplek perumahan dengan Rhivan. Dan sangat kebetulan sekali, mereka berdua cukup akrab dan juga Jonathan pasti tahu tentang perempuan itu sebab mereka sama-sama murid baru di sekolahnya.
Dengan segera Rhivan mencari Jonathan dan akhirnya . . . .


* * *


“Dapat!!! Ternyata nama perempuan itu Agnia” saut Rhivan sambil tersenyum.
“Agnia Dewi Rianti,,, hemm..nama yang bagus” lanjut Rhivan.
“Aku harus cepat-cepat menemuinya dan berterimakasih padanya. Harus!” lanjut Rhivan dengan bersemangat.
Rhivan berkeliling sekolah untuk mencarinya, namun ia tidak kunjung menemukan Agnia. Tiba-tiba Rhivan teringat bahwa murid-murid baru itu sedang mengikuti MOS yang di adakan sekolah. Itu artinya Agnia juga ada di sana dan untuk saat ini ia tidak bisa bertemu dengannya.
Dan yang ia tahu, MOS akan di adakan hingga satu minggu,termasuk hari ini. Karena kebetulan ia adalah salah satu panitia MOS tahun ini, ia berencana untuk bertemu dengan Agnia pada saat MOS berlangsung.
Tetapi, tugas mengawas MOS hari ini bukan lah Rhivan, Rhivan bertugas mengawasi dan memberi pengarahan MOS lusa nanti.Jadi ia harus menunggu sampai hari kamis mendatang.
Teringat hal itu, tiba-tiba Rhivan bergegas pergi ke ruang OSIS yang ada di sekolahnya, ia baru ingat bahwa ia harus mengikuti rapat OSIS hari ini.






Tiga


“MENURUT kalian, apakah lebih baik kita lebih tegas lagi pada murid-murid baru kali ini? Dan juga memberikan kedisplinan yang tinggi untuk mereka seperti angkatan-angkatan yang terdahulu.” ujar seorang lelaki berbadan tegap nan gagah.
Alvan, adalah ketua OSIS di SMP itu, dia adalah orang yang lumayan tegas namun baik hati. Ia sangat berpendirian dan juga berwibawa untuk ukuran murid SMP.
Karena itulah pada tahun ini ia terpilih kembali menjadi ketua OSIS untuk yang kedua kalinya.
Seseorang mengangkat tangan,menunjukan bahwa ia ingin memberi masukan.
“Saran yang bagus. Tetapi jika demikian, bukan kah seharusnya kita juga melakukan hal yang sama pada murid-murid kelas 2? Karena apabila murid-murid baru kali ini telah disiplin, namun memiliki kakak-kakak kelas yang kurang ajar dan tidak sopan, aku rasa mereka juga akan terpengaruh dan sia-sia saja melakukan hal itu.” Saut togar dengan nada yang begitu sopan.
Patut di akui, murid-murid kelas 3 kali ini adalah murid-murid yang baik dan begitu sopan terhadap guru-guru juga tutur katanya yang baik. Bahkan juga baik kepada semua adik kelanya. Bisa di katakan mereka memiliki etika dan sopan santun yang baik.
Tiba-tiba seorang perempuan ikut mengangkat tangan.
“Tetapi, menurut ku apa salahnya kita melakukan hal itu? Toh tidak ada kata terlambat untuk melakukan hal yang baik. Mungkin saja murid-murid baru kali ini tidak akan terpengaruh oleh kakak-kakak kelasnya.” Lanjut Mira bermaksud mendukung Alvan.
Saat semua sedang sibuk berdiskusi, Alvan mendapati Rhivan sedang duduk termenung di ujung meja rapat. Alvan tidak tahu apa yang sedang Rhivan pikirkan. Rhivan terus mengerutkan dahi dan bertopang dagu sambil memikirkan sesuatu.
“Rhivan! Ada apa dengan mu? Kamu sedang sakit?”tanya Alvan dengan heran.
Rhivan tetap termenung dan seakan tidak mendengar suara apa pun.
Alvan mencoba menjahilinya dengan mengejutkan nya. Ia mencoba mendekati telinga Rhivan dan ia berteriak sekuat-kuatnya.
RHIVAN!!!!!!”
Spontan, Rhivan pun terperanjat dan langsung berdiri tegap dengan ekspresi kaget.
Alvan hanya tersenyum dan berkata “apa yang sedang kamu pikirkan sampai kamu tidak konsen pada saat rapat. Sebelumnya kamu tidak pernah seperti ini. Ada apa van?”
“Hemm….tidak ada apa-apa kok. Aku hanya sedikit tidak enak badan saja.”jawab Rhivan dengan gugup.
“Ya sudah, kamu istirahat aja dulu.” kata Alvan.
“Oke teman-teman semua. Untuk rapat hari ini kita cukupkan dulu sampai di sini. Dan ingat, bagi petugas MOS besok, di mohon untuk bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Oke?” lanjut Alvan dengan semangat.
“Oke!!!”saut semuanya.



* * *






KEESOKAN harinya, di sekolah.
Rhivan sedang berada di kantin. Hari itu ia sedikit melupakan kejadian kemarin dan usahanya untuk mencari seseorang. Hari itu ia tidak sempat memikirkan hal itu karena guru nya, Pak Samir memberikan banyak tugas rumah yang harus ia kerjakan, sehingga ia tidak  sempat untuk mengingat hal itu. Yang ia pikirkan hanya tugas-tugas rumahnya yang harus di selesaikan nya secepat mungkin.
Karena jika tidak, gurunya akan menghukum nya dengan tegas, begitu juga dengan murid-murid yang lain yang tidak membuat tugasnya. Maklum, Pak Samir itu adalah guru yang sangat tegas dan disiplin, tidak boleh ada cela sedikit pun di matanya.
Rhivan terus memikirkan tugas-tugasnya sambil menundukan kepala dan berjalan meninggalkan kantin.
“BRUUKK!!!”
Seorang perempuan yang sedang membawa air minum menabrak Rhivan, air minumnya tumpah ke pakaian Rhivan sehingga pakaiannya basah.
“duuh… maaf kak,maaf. Aku gak sengaja. Maaf yah! Sini biar Agnia bersihin pake tisu” ujar perempuan itu.
Rhivan hanya diam. Dengan ekspresi yang sangat marah, ia menepis tangan perempuan itu yang sedang mencoba membersihkan bajunya. Lalu pergi meninggkalkan perempuan itu tanpa sepatah kata pun.
Setelah beberapa langkah menjauh dari kantin, langkah nya terhenti.
“Agnia katanya?”tanya Rhivan pada diri sendiri.
Ia menoleh ke belakang dan berkata lagi “D-dia bilang…dirinya Agnia? Agnia yang aku cari-cari?”


Empat


Di dalam kamarnya,
Rhivan terus memikirkan hal yang terjadi di kantin tadi. Rhivan sangat menyesal dengan apa yang telah ia perbuat.
“bodoh..bodoh…bodoh!!!!! kenapa aku sangat bodoh!? Aku yang salah karena jalan menunduk dan menabraknya, tapi kenapa dia yang meminta maaf? Baju ku bisa kering sendirinya. Tapi kenapa aku tidak berfikir dulu sebelum bertindak!? Saat aku bertemu dengan orang yang beberapa hari ini aku cari,  mengapa aku malah marah kepadanya sampai sepeti itu!? Apa salahnya ku katakan Iya,tidak apa-apa!”teriak Rhivan pada dirinya sendiri.
“sekarang aku tambah sulit untuk menemuinya, karena dia pasti sangat marah kepadaku dan sekarang bukan hanya kata terimakasih saja yang harus ku katakan, tetapi juga kata maaf padanya. Aneh memang kedengaran nya. Orang yang telah aku marahi, tetapi aku harus mengucapkan terimakasih kepadanya karena telah menolong ku.Bagaikan air susu di balas air mancur......” lanjut Rhivan sambil mengoceh sendiri.
“ eeh...maksudku air hujan......”
“ Loh kok air hujan?  Salah-salah, maksudnya air ketumbar”
“ ha? Ketumbar? Bukan-bukan, yang benar itu air tuba. Itu aja gak tau.ckckckck” ujar Rhivan sambil mengoceh tak karuan.
Rhivan tidak pernah seperti ini sebelumnya, tertekan karena kebaikan orang lain. Sungguh…ini hal yang aneh. Rhivan terus mengoceh sendiri sepanjang malam sambil memarahi dirinya sendiri, hingga akhirnya ia pun tertidur lelap karena kelelahan.



* * *



Saat pagi tiba, Rhivan bangun seperti biasanya, pukul 5 dini hari dan berangkat sekolah pukul 6 pagi. Ini di sebabkan karena ia harus menunggu bus jemputan yang akan mengantarkannya ke sekolah.
Sampai di sekolah, ia lupa akan kejadian kemarin. Rhivan memang terbilang orang yang mudah lupa alias pelupa. Tetapi setibanya di sekolah, saat ia melihat Agnia dari kejauhan, ia langsung teringat akan kejadian kemarin. Ekspresinya langsung berubah drastis. Wajahnya murung dan penuh rasa bersalah.
Saat jam pelajaran berlangsung pun, eksprei wajahnya tidak berubah sedikitpun dan bahkan tidak mendengarkan apa yang di sampaikan gurunya. Ia hanya termenung dan berpandangan kosong.
Saat waktu istirahat tiba, Rhivan mencoba keluar dari kelasnya dan ia melihat Agnia lewat di hadapan nya. Rasa bersalah pun bersarang di pikirannya. Semenjak itu Rhivan selalu kebetulan melihat Agnia dari kejauhan, bahkan hampir setiap hari. Entah mengapa saat ia tidak bertemu Agnia hari ini, dirinya merasa ada yang kurang hari ini. Dan itu menjadi kebiasaan baru Rhivan, ia selalu memperhatikan Agnia. Di mana Agnia berjalan, tatapan matanya tidak pernah lepas darinya. Serasa rasa bersalah itu lenyap dan tidak ada lagi.
Hal itu terus bergulir hingga berbulan-bulan dan Agnia pun telah resmi menjadi murid kelas 1 di SMP itu. Hingga akhirnya sebuah perlombaan mempertemukan mereka berdua.
Lomba puisi se-Kecamatan.
Mereka pun ikut dalam ajang perlombaan itu, Rhivan di pilih sebagai perwakilan untuk peserta laki-laki dan Agnia sebagai perwakilan untuk peserta perempuan dari SMP mereka berdua. Untuk beberapa hari sebelum pertandingan, Rhivan harus berlatih bersama Agnia.
Sebenarnya Rhivan senang karena bisa berlatih bersama nya, tetapi ia masih khawatir bahwa Agnia masih marah padanya. Mereka berdua pun terpaksa berlatih bersama, sebelumnya mereka tidak pernah berkomunikasi dan mengobrol.
Tetapi hari itu berbeda, mereka berbincang-bincang dan bercanda-canda. Seperti melupakan hal yang telah terjadi di antara meraka.
Rhivan mengajari Agnia dengan ramah bagaimana membaca puisi yang baik, ia pun membantu nya membuatkan puisi untuk perlombaan nya nanti.
“kalau mau baca puisi itu, harus penuh dengan penghayatan dan mengerti betul dengan puisi yang di bacanya, ekspresi pun sangat di butuhkan untuk membacakan puisi. Agar puisi itu dapat di dengar dengan indah dan isinya pun sampai kepada para pendengarnya.”ujar Rhivan dengan ramah pada Agnia.
“hemmm…… jadi kalau begini? Tinggi kokoh nan indah jua menjulang gunung Jantan.....”jawab Agnia sambil melambai-lambaikan tangan nya yang mengisaratkan gunung yang tinggi.
“Agnia....bukan seperti itu. Kamu harus menghayati dan berekspresi total agar nyaman di dengar juga di pandang. Dan juga kata-katanya kurang tepat tuh. Coba kamu ganti atau di pendekan jadi tinggi kokoh menjulang Gunung Jantan……” ujar Rhivan sambil mencontoh kan kepada Agnia.
Rhivan mengajari Agnia dengan serius dan bersungguh-sungguh. Ia mencoba menasehati dan mencontohkan bagaimana membaca puisi yang baik dan benar. Dan Agnia pun menerima nasehat Rhivan dengan senang hati.
“bagaimana? Sudah paham kan?”tanya Rhivan sambil tersenyum.
“iya kak, Agnia sudah paham kok apa yang sudah kak Rhivan ajarkan”jawab Agnia dengan seulas senyuman.
“ya sudah, untuk hari ini latihan kita cukupkan sampai di sini, karena besok kita sudah harus bertanding dan kita harus menyiapkan suara agar suara kita tidak lemah nanti, oke?” ujar Rhivan sambil tersenyum lebar dan mengangkat ibu jarinya ke atas.
“oke kak!”saut Agnia sambil membalas senyum Rhivan dan ikut mengangkat ibu jarinya juga.
Dan saat itu juga Rhivan teringat sesuatu hal, sesuatu yang membuatnya merasa sangat bersalah. Dan Rhivan pun....

* * *

Lima


TIBA-tiba…
Tanpa Rhivan sadari, dengan cepat ia memegang kedua tangan Agnia dan mengatakan sesuatu. Sesuatu yang sampai saat ini mengganjal dalam hatinya.
“maaf……”
“maaf..?”saut Agnia dengan heran.
“maafin kakak yah? Kak Rhivan udah egois karena marah karena kesalahan kakak sendiri. Kakak yang salah karena jalan sambil menunduk dan kamu tidak salah apa-apa. Maaf yah,Agnia?” ujar Rhivan dengan spontan.
Akhirnya,hal yang telah membuatnya kacau akhir-akhir ini telah ia ungkapkan, kalimat itu terucap dengan sendirinya dan kejadian itu begitu cepat. Tetapi ia tinggal menunggu hasil nya. Yakni jawaban kata maaf dari mulut Agnia.
Agnia termenung dan tercengang, ia sangat kaget sekali. Mukanya memerah dan sulit untuk berkata-kata, tetapi beberapa saat kemudian ia pun tersenyum dan melepaskan genggaman tangan Rhivan.
“Agnia sudah maafin kakak kok. Bahkan Agnia merasa kak Rhivan tidak pernah melakukan kesalahan terhadap Agnia, jadi untuk apa Agnia memaafkan orang yang tidak bersalah!?”jawab Agnia sambil tersenyum dan berlari keluar dari ruangan tempat mereka latihan dengan tersenyum lebar.
“jadi itu artinya kamu maafin kakak!!???”teriak Rhivan pada Agnia dari kejauhan.
“iya!!!!”teriak Agnia dengan tersenyum sambil berlari meninggalkan ruangan itu.
Rhivan bingung, mengapa Agnia pergi begitu saja meninggalkan nya. Padahal masih ada sesuatu yang harus ia katakan pada Agnia, sesuatu  yang menjadi tujuan utamanya untuk mencari tahu tentangnya.
Ucapan “terimakasih….”


* * *

RHIVAN pun mengurungkan niatnya untuk mengucapkan terimakasih hari ini, akhirnya ia pun ikut keluar meninggalkan ruangan itu dan berencana untuk mengucapkan terimakasih pada saat yang tepat kelak nanti. Yang penting sekarang ialah dia tidak perlu merasa cemas lagi untuk bertemu Agnia, karena untuk saat ini mereka telah berteman baik.
Tetapi entah mengapa saat Rhivan menyadari bahwa dirinya telah berteman dengan Agnia, ia merasa sangat senang dan bahagia. Hatinya berbunga-bunga dan hari itu juga ia tidak bisa berhenti tersenyum lebar sepanjang hari.
Saat latihan membaca puisi sendiri pun ia terus teringat-ingat sosok Agnia dan senyum nya tidak pernah lepas dari raut wajahnya. Bahkan, tanpa ia sadari Agnia telah menjadi motivasi nya untuk menang pada perlombaan ini. Ia berlatih dengan bersungguh-sungguh.
Hingga.....



Enam


AKHIRNYA hari itu pun tiba,
Mereka berdua berangkat sekolah lebih awal dari biasanya, karena perlombaan itu bukan di laksanakan di sekolahnya melainkan di gedung Perkumpulan Seni Daerah Karawang.
Dengan segera mereka pergi dengan di temani dua orang guru pembimbing sekaligus penyemangat bagi mereka berdua, Pak Rafid dan Bu Tini.
Sesampainya di tujuan, ternyata perlombaan telah di mulai. Tidak ada persiapan yang bisa mereka persiapkan, tiba waktunya Agnia di panggil namanya untuk mengikuti lomba. Semua berjalan dengan teramat cepat, perlombaan telah selesai dan itu artinya Rhivan pun telah membacakan puisinya.
Rhivan sangat yakin bahwa mereka berdua bisa menang, walaupun mereka harus menghadapi persaingan yang cukup ketat karena harus terpaksa melawan murid-murid SMA juga. Ini di karenakan tujuan perlombaan kali ini hanya untuk mencari perwakilan dari tiap kecamatan yang ada. Dan itu berarti termasuk sekolah SMA yang juga terdapat di kecamatan itu.
Seluruh peserta telah tampil, juri di berikan waktu 1 jam untuk menghitung nilai tiap-tiap peserta yang telah tampil dan kebetulan sekali juara nya akan di umumkan hari itu juga.
Semua orang duduk di tempatnya masing-masing untuk menunggu hasil dari perhitungan para juri, Rhivan duduk di sebelah Agnia sambil mengobrol dan bercerita-cerita.
Tapi tiba-tiba,
Wajah Rhivan pucat, ia menekan dadanya kuat-kuat menahan rasa sakit yang ia rasakan. Sesekali ia meringis kesakitan. Semua terkejut melihat keadaan Rhivan, Pak Rafid bergegas membawanya ke rumah sakit untuk di periksa sedangkan Bu Tini tetap di tempat menemani Agnia untuk mengetahui hasil lomba tersebut.
Agnia ketakutan, ia tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Rhivan. Ia hanya dapat melihat Rhivan sedang kesakitan. Sebenaranya ia sangat ingin menolong, tetapi ia tidak tahu harus berbuat apa dan apa yang bisa ia lakukan.
“kak… kak Rhivan kenapa? Apa yang terjadi sama kakak? Kakak sakit?”tanya Agnia bingung,
Sewaktu Agnia sibuk berfikir, Rhivan telah di bawa oleh Pak Rafid ke puskesmas terdekat karena jarak rumah sakit dari tempat itu cukup jauh, akhirnya Pak Rafid memutuskan membawanya ke puskesmas terdekat saja.
Agnia sedikit meneteskan air mata nya melihat Rhivan yang sedang kesakaitan seperti itu, entah mengapa ia seperti merasakan apa yang sedang Rhivan rasakan saat ini.
Setibanya di puskesmas mereka langsung bergegas menuju ruang pemerikasaan untuk memeriksa keadaan Rhivan....





* * *


Pemandangan lain tampak di dalam gedung Perkumpulan Seni Daerah Karawang. Pembacaan juara-juara pun di umumkan, tetapi yang berhak mewakili kecamatan mereka untuk ikut pada perlombaan se-Kabupaten hanyalah yang mendapatkan juara 1(pertama).
Jantung Agnia berdegup kencang, ia sangat was-was namun berharap untuk menang. Sangat beraharap.
“baiklah, saya akan mengumumkan hasil dari perlomabaan puisi hari ini. Dan ingat, yang berhak mewakili kecamatan kita hanyalah yang mendapatkan juara pertama. Tetapi, bagi yang kalah kelak jangan bersedih. Mungkin di sini kalian kalah, tetapi orang-orang yang berada di sini adalah perwakilan-perwakilan dari setiap sekolah kalian masing-masing. Dan harusnya kalian bangga karena kalian lah yang terbaik di sekolah kalian”
ujar salah satu juri yang akan mengumukan hasilnya.
“oke. tidak usah menunggu lagi, saya akan mengumumkan hasil perlombaan nya.di mulai dari juara 3, dan Juara ketiga perlombaan puisi se-Kecamatan adalah . . . . . . .”


* * *


Tujuh


RHIVAN pun keluar dari ruang pemeriksaan,
Pak Rafid yang sedari tadi menunggu di luar ruang pemeriksaan langsung mendatangi Rhivan yang keluar dengan perlahan dari ruangan itu.
“Bagaimana keadaanmu van? Apa kata dokter? Kamu kenapa?”desak Pak Rafid penasaran.
Rhivan terdiam sebentar, sedikit termenung seperti sedang berfikir untuk menyusun kata-kata yang tepat untuk mulai berbicara. Rhivan menarik nafas lebar dan berusaha menampakan senyuman padahal ia tidak bisa tersenyum sekarang ini.
“Rhivan gak apa-apa kok pak. Tadi kata dokter, Rhivan cuma kelelahan aja dan terlalu tegang akan hasil lomba tadi. Jadi kayak gini deh.. hehehe… maaf ya pak udah buat Bapak panik tadi?” jawab Rhivan dengan santai.
“kamu benar tidak apa-apa van?”
“enggak apa-apa kok. Liat aja, badan Rhivan kelihatan sehat-sehat aja tuh. Jadi tidak perlu khawatir, dan jangan ceritakan kejadian ini pada siapa pun ya pak?”
“loh.. kenapa?” tanya Pak Rafid bingung.
“nanti orang-orang berpendapat lain kalau mendengar kejadian ini. Oke pak?”
“hemm,,, iya-iya.” Jawab Pak Rafid dengan lesu.
“ya sudah pak, sekarang kita kembali ke sekolah saja. Ada barang-barang Rhivan yang masih tertinggal di sana. Kalau masalah hasil lomba, kan ada Agnia sama Bu Tini di sana.”
“iya-iya. Ayo!” ajak Pak Rafid.
Rhivan dan Pak Rafid pun akhirnya kembali ke sekolah, setiba di sana….
Rhivan mendapati Agnia telah sampai di sekolah duluan, itu artinya Agnia telah mengetahui hasil perlombaan tadi.
Namun baru beberapa langkah Rhivan berjalan menghampiri Agnia, Rhivan melihat Agnia yang sedang menangis tersedu-sedu di bawah pohon yang rindang di pinggir pekarangan sekolah.
Rhivan bingung dan tidak tahu mengapa ia menangis. Ia mencoba menghampirinya lagi dan setibanya ia berdiri di depan Agnia yang sedang tertunduk menangis, Rhivan berkata
“agnia? Kamu kenapa?”
Mendengar suara itu, Agnia langsung meilirik orang yang ada di hadapan nya itu dengan pandangan sedih. Tidak berfikir panjang lagi, spontan Agnia langsung memeluk tubuh Rhivan dan menangis di pelukan Rhivan.
Rivan tidak bisa melepaskan pelukan Agnia karena ia tahu Agnia sedang sedih tapi ia tidak tahu sebabnya.
Beberapa saat mereka terhanyut dalam keheningan dan tangisan Agnia, Agnia tersadar. Ia baru sadar ternyata Rhivan tidak apa-apa. Rhivan sehat-sehat saja dan bahkan sedang ada pada pelukan nya.
Dengan cepat ia melepaskan pelukannya, namun tetap menagis.
Rhivan bingung dan berkata di dalam hatinya
padahal Agnia sudah sadar bahwa aku sekarang ada di hadapannya dan tidak sedang sakit, tapi kok kenapa dia masih menangis tersedu-sedu seperti itu? Bukan karena mengkhawatirkan ku yah?..... loh? Kok aku jadi GR gini sih? Ya gak mungkin lah dia mengkhawatir kan ku sampai seperti itu, dia kan bukan siapa-siapa aku… tapi kenapa aku berharap ia mengkhawatirkan ku? Aneh…
Terlalu lama Rhivan berfikir, akhirnya Rhivan pun mengatakan sesuatu,
“sebenarnya kamu kenapa Agnia? Kenapa kamu menangis sampai seperti itu di sini? Ayo cerita sama kak Rhivan, mungkin kakak bisa bantu.” Ujar Rhivan dengan seulas senyuman.
Tangisan Agnia berhenti, namun ekspresi kesedihan masih tersirat pada raut wajah Agnia.
“Agnia kalah….”jawaban yang singkat dari mulut Agnia.
“maksud kamu??”tanya Rhivan dengan heran.
“iya… Agnia kalah… Agnia sudah kalah…”
“kalah? Maksud kamu, kamu menangis tersedu-sedu dari tadi itu hanya karena kamu kalah perlombaan itu?”tanya Rhivan.
“iya.. emang kenapa? Salah ya kalau Agnia sangat berharap untuk menang?”jawab Agnia dengan sedikit marah.
“yaa enggak sih,, tapi kenapa harus menangis seperti itu. Kakak tahu kamu sangat berharap untuk menang, tetapi harapan mu hancur hari ini. Tapi coba kamu pikirkan, kamu itu sudah bagus, bahkan sangat bagus di banding kakak. Tetapi mungkin ini bukan lah hari keberuntungan mu. Coba kamu pikir, kamu itu hebat. Kenapa..? karena kamu bisa mewakili sekolah ternama ini untuk mengikuti lomba itu. Itu artinya kamu adalah yang terbaik di sekolah ini. Apakah kamu tidak bangga akan hal itu?”
“mmm…… kakak benar. Mungkin Agnia terlalu berlebihan menanggapi lomba itu. Tapi, tetap saja Agnia kalah.” Jawab Agnia.
“ya… benar. Kamu kalah dalam perlombaan itu. Tapi.. kamu tetap menang di sekolah ini. Karena kamu mampu mewakili sekolah kita ini. Padahal bisa di bilang kamu baru seorang pemula dalam seni membaca puisi, tetapi kamu sudah sanggup mewakili sekolah kita ini. Itu hebat Agnia!”tegas Rhivan sambil tersenyum,berusaha membangkitkan semangat Agnia agar tidak bersedih lagi.
Akhirnya Agnia pun ikut tersenyum walaupun senyuman yang kurang percaya diri.
Rhivan terus berfikir dan mencari cara untuk membuat Agnia tidak bersedih lagi. Lalu ia mendapat ide untuk…
“hei Agnia. Bagaimana kalau malam ini kita jalan-jalan ke pasar malam yang ada di sebrang kantor kecamatan? Dari pada kamu di rumah dan bersedih mulu. Gimana? Tertarik?”ajak Rhivan dengan gayanya yang sangat mempesona.
Agnia terkejut dan menatap Rhivan dengan tatapan tidak percaya.
“kak..kakak mengajak Agnia?”tanya Agnia dengan tidak percaya.
“iya..”jawab Rhivan sambil tersenyum.
Agnia berfikir sesaat. Lalu,
“tawaran yang menarik. Boleh-boleh aja. Tapi… memangnya pacar kakak tidak marah?
“pacar? Kakak mana punya pacar. Sampai detik ini, kakak belum pernah pacaran. Ya sudah, kalau begitu kita ketemuan di gerbang pasar malam jam 7 malam. Oke?”
Agnia terkejut, ia sama sekali tidak percaya bahwa ternyata Rhivan belum pernah pacaran satu kali pun. Lelaki tampan nan baik dihadapannya ini ternyata belum pernah pacaran.
“oke deh kak” jawan Agnia sambil sedikit tersenyum.
“baik.. kakak pulang dulu ya Agnia. Tuh bus nya sudah menunggu. Sampai jumpa nanti malam Agnia. Jangan telat atau lupa ya… ingat. Pukul 7 malam!!”
“iya..”jawab Agnia.




* * *



Delapan



PUKUL 18.50,
Rhivan telah sampai duluan di banding Agnia,
Itu di karena kan Rhivan khawatir Agnia tidak mau datang karena masih bersedih.
Jadi dia datang lebih awal, walau pun hanya lebih awal beberapa menit dari rencana sebelumnya. Rhivan sangat menanti-nanti kedatangan Agnia, dia sangat berharap Agnia bisa datang dan segera datang.
Sembilan menit telah berlalu, Agnia masih tak kunjung datang. Rhivan terus menunggu di depan gerbang pasar malam sambil berdiri menyandarkan punggung pada pagar dan terus melirik jam tangan nya yang berada di lengan kirinya.
Tiba-tiba...
Saat Rhivan sibuk melirik jam tangan nya, terdengan suara seseorang memanggil dirinya.
“RHIVAN???”
Dengan segera ia menoleh ke arah sumber suara itu. Dengan ekspresi senang, iya melirik orang itu. Tetapi, saat ia melihat orang yang memanggilnya itu, ekspresi wajahnya spontan berubah. Seperti hilang semangat. Karena ternyata yang memanggilnya itu adalah Mira, teman sekolah nya.
“heii Rhivan, sama siapa kamu ke sini? Kok berdiri di depan gerbang terus? Kenapa tidak masuk? Lagi nunggu seseorang?”tanya Mira dengan akrab.
“iya. Aku sedang menunggu seseorang.”
“siapa? Orang yang spesial banget buat kamu yaa????”gurau Mira.
“hahaha… ada-ada saja kamu, Mir. Aku sedang menunggu teman ku. Dia sedang sedih, jadi aku ajak ke sini”jawab Rhivan sambil tersenyum.
“oohh…hehehe,, aku kira . . . .”gurau Mira lagi.
“kamu kira apa??”jawab Rhivan sambil tertawa kecil.
“enggak… oh ya sudah. Aku masuk duluan yah, Alvan udah nunggu lama di dalam. Sampai jumpa di dalam,Rhivan. Duluan yah..”
“iya-iya. Cepat masuk sana, kasihan Alvan nunggu kamu lama-lama.”canda Rhivan
“hahahahahaha…….”Mira tertawa sambil berjalan masuk ke dalam pasar malam itu.
Rhivan kembali tidak bersemangat dan terus melirik jam tangan nya itu.
Beberapa detik kemudian, seseorang datang menghampiri Rhivan yang sedang bersandar di depan pagar. Tubuh nya berdiri tepat di hadapan Rhivan yang sedang tertunduk memperhatikan jam tangan.
Rhivan mengangkat wajahnya dengan cepat, iya melihat seorang perempuan yang sedang tersenyum manis di hadapan nya. Untuk beberapa saat, ia tidak mengenali perempuan itu sambil termenung sesaat. Namun, saat perempuan itu memanggil dirinya. . .
“kak Rhivan? Kenapa bengong?”tanya perempuan itu sambil tersenyum.
Dan saat itu juga Rhivan tersadar dari lamunan nya, ia baru sadar bahwa perempuan di hadapan nya itu adalah Agnia.
“ag..ag..Agnia??”tanya Rhivan dengan heran.
“ya iyalah kak. Memang kakak kira siapa?”
“hehe… maaf-maaf. Tadi kakak gak ngenalin kamu, kakak kira kamu orang asing yang senyum-senyum sama kakak. Hehe.. maaf-maaf”ujar Rhivan sambil sedikit tertawa.
“sebenarnya tadi kakak memang gak ngenalin kamu , soalnya kamu cantiiik bangeet hari ini. Beda dari biasanya.”ujar Rhivan di dalam hati sambil senyum-senyum sendiri.
“ya udah, ayo kita masuk sekarang. Nanti kemalaman lagih” ajak Rhivan.
“iya…”
Malam itu, waktu terasa begitu lama bagi Rhivan.
Mereka melalui malam itu dengan gembira dan penuh canda tawa.
Mereka berjalan sambil berkeliling-keliling tempat itu sambil mampir pada tempat-tempat tertentu. Bahkan mereka pun makan malam bersama di sana karena mereka berdua belum makan saat pergi ke tempat itu. Hampir semua wahana yang ada mereka naiki, kecuali wahana-wahana untuk anak-anak.
Dan malam itu di akhiri dengan menaiki kincir raksasa. Mereka duduk berdua dalam satu tempat selayaknya orang yang sedang berkencan.
Apakah aku ini sedang berkencan dengan nya??” tanya Rhivan pada dirinya sendiri di dalam hati.
“waah… dari sini, bintang-bintang malam ini tampak cantik sekali ya…indah!” kagum Agnia sambil memperhatikan langit malam yang penuh dengan taburan-taburan bintang yang kerkelip satu sama lain.
“iya… sama seperti kamu”Jawab Rhivan dengan nada suara yang pelan.
“apa kak??tanya Agnia dengan heran karena takut salah dengar.
Rhivan terdiam kaku dan wajahnya memerah.
“ng..enggak.. maksud nya iya kamu benar, bintang nya memang indah. Sangaat indah”jawab Rhivan dengan grogi.
Tubuh Rhivan berkeringat, padahal malam itu udaranya sangat sejuk.
“oohh… mungkin tadi Agnia salah denger. Soalnya yang Agnia denger. . . .”tutur kata Agnia terhenti dan berfikir sejenak.
“Agnia dengernya kakak bilang bulan nya cerah. Hehehe… mungkin karena suara mesin kincir ini yang begitu bising kali yah... Hehehe….”lanjut Agnia sambil terbata-bata.
Sebenarnya Agnia mendengar jelas apa yang di katakan Rhivan barusan. Agnia mendengar Rhivan berkata “iya… sama seperti kamu”. Namun saat mendengar penjelasan tadi, ia sedikit kecewa dan padahal ia berharap yang di dengarnya itu benar.
looh.. perasaan tadi Agnia dengar kak Rhivan bukan bilang itu lah, kenapa sih kak Rhivan gak bilang yang itu aja..?  loh-loh.. kok Agnia ngarep gini sih? Gak mungkin lah kak Rhivan bilang gitu sama Agnia. Kita kan cuman sebatas Kakak dengan Adik kelas aja. Kenapa Agnia mikir gitu yah?? Aduuh…”oceh Agnia dalam hatinya.
Tidak terasa, kincir yang di naiki mereka telah berhenti. Itu artinya mereka harus turun dan saat nya untuk pulang. Sikap mereka berdua langsung berubah semenjak turun dari kincir itu. Mereka seperti segan dan malu-malu satu sama lain.
Akhirnya mereka pun memutuskan untuk pulang dan keluar dari tempat itu.  Rhivan mengantarkan Agnia pulang ke rumahnya dengan motor yang di bawanya.
Rhivan mencoba ingin tahu di mana tempat tinggal Agnia. Karena dari itu ia ingin mengantarkan Agnia pulang.
Setibanya di rumah Agnia…
“udah kak. Di sini aja. Rumah Agnia di sini, persis di sebelah kanan kita. Rumah nya berwarna kuning muda terang yang ada pagar warna hijau. Itu rumah Agnia. Kapan-kapan mampir aja kalau ada waktu.”ujar Agnia sambil tersenyum.
“siip!!”
“ya udah, Agnia masuk duluan ya ke rumah. Makasih ya kak udah ngajak Agnia jalan-jalan dan udah nganterin Agnia pulang. Makasih...”saut Agnia dengan seulas senyuman.
“iya sama-sama.”jawab Rhivan sambil membalas senyuman.
Agnia pun berjalan menuju pintu rumahnya dan Rhivan terus memperhatikan Agnia hingga Agnia sampai di depan pintu rumahnya.
Sepertinya Rhivan terpikat oleh Agnia, dan terlebih lagi hari ini ia sangaat caantik bagi Rhivan. Dengan baju panjang berwarna merah muda dan rok panjang yang sungguh anggun dengan rambut di urai panjang mengenakan bando. Menambah persepsi Rhivan terhadapnya. Perempuan yang begitu cantik baginya.




* * *


Sembilan



10 BULAN berlalu,
Tidak terasa Rhivan telah mendekati Ujian Nasional.
Hanya tinggal beberapa hari lagi menjelang ujian itu tiba, sebelumnya ia telah melewati empat kali Try Out dan satu kali Ujian Akhir Sekolah(UAS) dengan cukup mudah dan tidak terlalu terbebani akan ujian yang sudah-sudah.
Namun ujian yang terakhir ini berbeda, ujian ini menentukan nasib Rhivan yang apakah akan lulus atau mungkin tidak.
Sungguh, Rhivan sangat mengkhawatirkan hal itu, ia sangat takut menghadapi ujian Nasional itu.
3 tahun ia bersekolah dan belajar di SMP itu, namun hanya dalam waktu 4 hari nasibnya di tentukan. Apabila tidak lulus pada ujian itu, gugurlah semua semangat, harapan dan cita-cita nya. Dan ia harus mengulang lagi.
“akkhhh…. Kenapa harus ujian ini yang menentukan kelulusan ku?? Ini tidak adil! Tidak sebanding dengan kerja keras yang kami lakukan, yakni belajar selama 3 tahun di sini tetapi hanya di tentukan oleh 4 lembar kertas yang harus kita isi. Sungguh tidak adil!!”oceh Rhivan pada dirinya sendiri.
Ia sangat tertekan, ia teramat sangat takut kan hal itu.
Dan suatu hari ia bercerita tentang keluhan nya itu pada Agnia, karena yang ia pikir hanya Agnia lah yang bisa memahami dirinya.
“oohh… begitu ternyata.. tapi kak, bukan kah ujian-ujian kakak sebelumnya itu nilai nya baik-baik semua!? jadi mengapa harus khawatir?? Agnia yakin kok kakak bisa lulus dan bahkan mendapatkan nilai yang memuaskan. Asal kakak belajar dengan rajin dan bersungguh-sungguh untuk lulus. Kalau tidak, ya tanggung sendiri akibatnya.”ujar Agnia pada Rhivan.
“iya..kakak tahu. Tapi… masa perjuangan kami selama 3 tahun hanya di tentukan oleh 4 lembar kertas dan 4 hari ujian?? Itu tidak sebanding!”bela Rhivan.
“laah… kalau bukan 4 hari itu. Mau berapa hari? Kan gak mungkin kita adakan ujian selama 3 tahun juga agar sebanding dengan perjuangan kakak!? Gak mungkin kak. Mendingan kakak jalani saja dulu, dan ingat jangan lupa belajar dengan bersungguh-sungguh agar kakak bisa lulus.”ujar Agnia sambil tersenyum memberi semangat.
“hmm…. Iya deh iya.”jawab Rhivan dengan nada datar.



* * *
Setelah hari itu, ia belajar dengan bersungguh-sungguh karena tidak ingin tidak lulus pada ujian kali ini. Karena waktu ujian Nasional adalah lusa nanti.
Rhivan mempelajari semua pelajaran yang akan masuk dalam UN, mulai dari IPA kelas 1 sampai 3, MTK kelas 1 sampai 3, dan demikian juga dengan B.Indonesia dan Bhs.Inggris. Ia pun terpaksa meminjam buku-buku kelas 1 pada Agnia juga Jonathan untuk belajar.
Dan…
Hari itu pun tiba.
Saat-saat yang paling menegangkan dalam hidup Rhivan, Ujian Nasional di mulai..
Hari pertama ujian ini, Rhivan sangat gugup namun percaya diri karena ia sangat ingin lulus. Tetapi tetap saja Rhivan merasa tegang untuk mengisi tiap-tiap lingkaran yang tertera pada selembar kertas penentu kelulusuan nya.
Sebenarnya Rhivan sangat bosan menulis nama nya sendiri di atas selembar kertas itu, sudah berkali-kali ia mengisi namanya pada selembar kertas dan juga harus membulati setiap huruf pada namanya di atas kertas itu. Bisa di hitung ia telah melakukan hal itu sebanyak 17 kali. Dan akan ada 3 kali lagi besok dan seterusnya hingga ujian ini berakhir.

* * *

Hingga akhirnya 4 hari ujian pun telah di lewati oleh Rhivan dengan baik. Tinggal menunggu hasil dari jerih payahnya selama ini.
Namun, saat Rhivan bernafas lega karena telah bisa melewati Ujian Nasional ini, ia terfikirkan sesuatu hal. Suatu kenyataan yang menyedihkan baginya.
Yakni . . .



Sepuluh


YAKNI ia tidak bisa bertemu dengan Agnia lagi,
Rhivan merasa tidak bisa bertemu dengan Agnia lagi kelak, karena nanti saat ia lulus ujian akhir ini ia akan meninggalkan sekolah ini. Dan itu berarti ia juga akan meninggalkan Agnia.
Sebelumnya tidak pernah terfikirkan oleh Rhivan bahwa ia akan meninggalkan Agnia di sekolah ini.
Dan tiba-tiba, saat Rhivan sedang berada di rumahnya. Tepatnya di dalam kamarnya saat ia memikirkan hal itu, suara dering yang tidak asing terdengar membuyarkan lamunan Rhivan dan ia pun terjaga dari lamunan. Dengan cepat ia melirik ponsel miliknya yang berada di atas meja kecilnya.
Ia mengulurkan tangan ke meja kecil di samping tempat tidur dan mulai meraba-raba mencari ponselnya. Tiba-tiba seulas senyuman pun hadir dari wajah Rhivan saat ia melihat layar ponsel nya tersebut, dengan cepat ia pun menempelkan ponselnya itu pada telinga sebelah kirinya.
“hallo?”katanya dengan perlahan karena tahu siapa yang sedang menelpon nya itu.
hallo kak. Ini Agnia”jawab Agnia.
“iya Agnia, ada apa? Tumben sekali kamu menelpon kakak. Ada apa?” balas Rhivan sambil sedikit tersenyum tetapi menaikan sebelah alisnya.
hemm…sebenarnya Agnia hanya mau memberi selamat atas keberhasilan kak Rhivan dalam melewati Ujian Nasional kemarin, dan Agnia yakin kok kakak pasti lulus.”timbal Agnia.
“Amiiin... Thanks ya, Nia. Tapi, kan belum tentu juga kakak lulus dengan hasil yang memeuaskan. Dan yang kakak takutkan adalah. . . . . .” tutur Rhivan terhenti.
apa yang kakak takutkan?” tanya Agnia dengan heran.
Sebenarnya Rhivan terfikirkan hal tadi bahwa ia takut tidak bisa bertemu dengan Agnia lagi.
“ng…enggak. Enggak ada. Kakak cuma takut nilai UN kakak pas-pas an dan tidak memuaskan.”lanjut Rhivan sambil terbata-bata.
tenang saja kak, Agnia yakin kok kakak pasti lulus UN kali dengan nilai yang memuaskan.”jelas Agnia pada Rhivan.
“semoga saja itu benar..”jawab Rhivan dengan sedikit senyuman.
oh iya kak, selain itu bagaimana kalau malam ini kita makan malam bersama di luar. Untuk merayakan keberhasilan kak Rhivan melewati UN ini dan telah menyelesaikan sekolah menengah pertamanya. Gimana? Kali ini biar Agnia deh yang teraktir. Yah?” pujuk Agnia pada Rhivan dengan nada memohon.
“hmmm… gimana yaa….”jawab Rhivan dengan bingung yang di sengaja.
ayoo lah kak. Mau yah? Yah..?”pujuk Agnia lagi.
“ok. Kakak terima tawaran kamu. Hitung-hitung menghilangkan stres kakak sekarang ini.” jawab Rhivan sambil tertawa kecil.
yeess…gimana kalau jam 19:45 malam ini di tempat makan sebelah kantor siaran radio Kenanga FM. Bisa?”tanya Agnia.
“Bisa. Jangan telat yah..”canda Rhivan.
iya-iya.. ya udaah, jumpa nanti malam kak. Daaa.. ”ujar Agnia
“daaa…”jawab Rhivan.


* * *



PUKUL 19:30
Seperti biasa, Rhivan telah tiba terlebih dahulu di banding Agnia.
Namun Agnia belum juga hadir di hadapan Rhivan. Aneh memang kedengaran nya, padahal baru selesai UN saja langsung di rayakan seperti ini. Padahal Rhivan masih belum tentu lulus sekolah menengah nya ini.
Rhivan menyondongkan dadanya ke depan meja yang ada di hadapan nya sambil memperhatikan kantor siaran Radio di seberang jalan sambil tersenyum kecil sambil memikirkan sesuatu.
Tiba-tiba, tepat pukul 19:45 seorang gadis cantik nan manis memasuki kawasan rumah makan itu, langkah perempuan itu tehenti dan tertegun sesaat. Ia melihat seorang pria yang sangat tampan sedang duduk di kursi sambil memperhatikan sesuatu.
waah… siapa ya dia?? Tampan sekali.. hmmm.. senyum nya juga manis sekali. Artis dari mana ya dia?? Kok sepertinya aku pernah melihat ia sebelumnya.. seperti tidak asing lagi bagiku..”ujar Agnia dalam hatinya sambil tersenyum-senyum sendiri.
Untuk beberapa saat, Agnia masih belum sadar akan sesuatu hal. Namun saat lelaki itu melirik ke arah nya, lelaki itu pun tersenyum dan melambaikan tangan nya. Seperti sudah sangaat akrab dengan nya.
Dan saat itu juga Agnia tersadar dari lamunan nya, mukanya memerah bila mengingat apa yang telah ia ucapkan tadi di dalam hatinya. Ia berharap tidak ada satu orang pun yang mendengar perkataan nya tadi..
Agnia pun melangkah menghampiri lelaki itu dan menyapa nya dengan ramah.
“maaf telat kak…”ujar Agnia.
Rhivan melirik jam tangan nya yang berada di lengan kirinya.
“telaat?? Kamu tidak telat,Nia! Lihat! Kamu datang tepat waktu kali ini. Tepat pukul 19:45 seperti yang kita rencanakan sebelumnya.”jawab Rhivan dengan tertawa kecil sambil memperlihatkan jam tangan nya ke arah Agnia.
“haa? Yang benar kak?? Waaah… rekor baru niih..” canda Agnia sambil tersenyum.
Akhirnya mereka pun memesan makanan dan makan malam bersama.
Senyum Agnia tidak pernah lepas sepanjang malam itu. Hatinya sedang berbunga-bunga akan sesuatu hal. Ia senang karena bisa jalan bersama dengan kakak kelas kesayangan nya itu. Walau pun sebenarnya ada sesuatu hal yang ia sedang fikirkan sedari tadi lagi. 




Sebelas

SETELAH selesai makan
Mereka pun memutuskan untuk pulang, namun di karena kan Rhivan tidak membawa motor kesayangan nya malam itu Rhivan mengantarkan Agnia pulang ke rumahnya dengan berjalan kaki menyusuri tiap-tiap blok pedagang di sisi jalan dekat kaki lima sambil berbincang-bincang.
Setiap langkah yang mereka tuju selalu membuat Rhivan dan Agnia tersenyum malu. Mereka terus berjalan perlahan walaupun mereka tahu bahwa mereka tidak mungkin sampai ke rumah Agnia hanya dengan berjalan kaki saja. Sambil membicarakan sesuatu hal, mereka seakan sudah sangat akrab dan sudah mengenal satu sama lain walaupun sebenarnya tidak terlalu lama saling mengenal.
“Oh ya kak.. Kalau lulus nanti, kakak akan melanjutkan ke mana? SMA atau SMK?”tanya Agnia dengan penuh rasa ingin tahu.
Rhivan berfikir sejenak.
“hm..sepertinya SMA” jawab Rhivan dengan singkat.
“SMA mana kak?” tanya Agnia lagi.
“mungkin SMA 12 Jakarta. Karena keinginan kakak dari kecil itu untuk bisa sekolah di sana. Sekolah yang sangat terkenal akan kepintaran dan ke pandaian siswa-siswi nya itu. Dan kakak ingin berada di antara nya.” ujar Rhivan sedikit memaksakan senyum nya.
“Jakarta..? kenapa harus jauh-jauh ke sana?” ujar Agnia sedikit bernada kecewa.
“Yaa.. seperti yang kakak katakan tadi. Itu keinginan kakak dari kecil. Memangnya kenapa kalau di Jakarta?” ungkap Rhivan.
Agnia termenung sejenak. Namun di kala itu, Agnia tersadar akan sesuatu hal yang sedari tadi ia fikirkan. Raut wajahnya berubah drastis. Seperti terdapat rasa kecewa yang teramat dalam.
“ng..nggak..enggak ada. Kak! udah malam nih.. Agnia harus cepet-cepet pulang. Kalau enggak nanti Agnia di marahin sama ayah.”ujar Agnia terburu-buru.
“hm.. ya sudah. Kakak panggilkan Taksi dulu buat kamu.”
“Taksi!!!!”ujar Rhivan dengan sedikit berteriak sambil melembaikan tangan nya ke arah jalan.
Spontan, taksi yang sedang berjalan pun berhenti tepat di sisi trotoar tempat Agnia berdiri.
“Agnia pulang duluan ya kak. Daa.. makasih udah nemenin makan malam Agnia malam ini.”ujar Agnia dengan sedikit tersenyum.
“daaa…”saut Rhivan sambil sedikit bingung dengan sikap Agnia yang tiba-tiba berubah.
Akhirnya Rhivan pun turut pulang dengan menaiki angkot yang berhenti di hadapan nya.
Di dalam angkot, Rhivan terus memikirkan tentang sikap Agnia yang tiba-tiba berubah drastis. Entah apa yang menyebabkan sikapnya berubah dengan cepat, yang jelas Rhivan masih bingung dan heran kepada Agnia.
Tidak terasa angkot yang di tumpanginya sudah sampai di depan rumah Rhivan, karena kebetulan rumah nya itu berada di seberang jalan raya. Bahkan terlihat jelas bila melirik dari arah kanan sisi jalan tersebut.
kiri bang..!!” ujar Rhivan menandakan angkot yang di naiki nya harus berhenti karena dirinya akan turun di sini.
Setelah membayar angkot tersebut, Rhivan pun turun dan melangkah perlahan. Kejadian tadi terus membayangi pikiran Rhivan hingga saat ini, namun tiba-tiba dada Rhivan kembali terasa sakit.
Teramat sangat sakit…
Itulah kata yang tepat dengan apa yang Rhivan rasakan saat ini.
Tangan nya menggenggam erat dada nya yang terasa seperti sedang teriris-iris oleh pisau.
Selangkah demi selangkah ia berjalan menyusuri jalan raya dengan badan teroleng-oleng. Ia mencoba kuat dan menahan rasa sakitnya itu.
Rhivan terus berjalan dan mencoba menyebrang agar sampai di rumahnya itu yang tepat berada di seberang jalan di hadapan nya.
“Rhivan.. kamu pasti bisa van.. ayo terus..ayo..sedikit lagi van..sedikit lagi.. come on” Teriak Rhivan di dalam pikiran nya.
Rhivan terus mencoba berjalan ke arah rumahnya dengan langkah yang tertatih tanpa melihat ke arah manapun. Ia hanya melihat ke arah hadapan nya saja dan menggenggam erat dada nya.
Namun, kali ini Rhivan bertambah merasakan kesakitan. Ia terbatuk-batuk hingga mengharuskan nya berhenti melangkah karena dada nya teramat sangat sakit.
ohhookk..ohokkk…” Rhivan terbatuk-batuk dan ia mencoba menahan batuk nya itu dengan menutup mulutnya dengan tangan sebelah kirinya.
Tiba-tiba..
Saat Rhivan terbatuk sekali lagi, ada yang terasa berbeda dengan telapak tangan kiri Rhivan. Seperti sesuatu yang jarang ia pegang.
Saat ia menjulurkan tangan kirinya ke hadapan wajahnya. Badan Rhivan langsung  bergetar, jantungnya seakan berhenti saat ia melihat telapak tangan nya itu.
“dd..dadd..dar..daaraaah..?????”ujar Rhivan terbata-bata seakan tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Seluruh badan Rhivan bergetar dan terasa sangat dingin dan kaku. Tak dapat ia gerakan satu organ tubuhnya pun untuk bergerak. Ia tertegun sesaat, dan sampai akhirnya suara klakson motor pun membuyarkan lamunan Rhivan.
Rhivan melihat sebuah motor melaju di hadapan nya dengan lampu yang sangat menyilaukan penglihatan nya.
tttiiiiiiiiinnn!!!”suara klakson motor itu menyerbu pendengaran Rhivan.
Dengan cepat Rhivan menggulingkan badan nya untuk menghindar karena ia masih sulit menggerakan anggota badannya.
Dan saat pengendara motor itu melintas di hadapan Rhivan yang sedang terbaring lemas.
wwoooyy!!! Boseen hiduuup looo!!!?? Tiduran di Jalaaan!!”teriak pengendara motor itu sambil melaju melewati Rhivan.
Dan dalam hati Rhivan pun menjawab “mungkin…”.
Rhivan terbaring lemah di tengah jalan raya karena tak dapat bergerak lagi, tubuhnya lemas dan teramat sangat kesakitan.
Tiba-tiba dari arah depan tempat Rhivan terbaring, sebuah cahaya yang sangat besar dan menyilaukan muncul.
Sepintas, Rhivan tertegun dan termenung. Namun akhirnya ia menyadari bahwa itu ialah sebuah mobil truk kontener yang akan melintas.
Dengan cepat ia menguatkan dirinya untuk merangkak menjauhi jalan. Mencoba tuk bergerak ke tepi jalan secepat mungkin. Bagaikan seorang prajurit yang sedang latihan militer, ia merangkak walaupun ia sangat kesakitan.
Walau pun begitu, karena kondisi Rhivan yang sedang lemah dan kesakitan, ia tidak dapat bergerak cepat seperti biasanya.
ttttiiiiiiiinnnnnnnn….!!!!!!”suara klakson mobil itu menggetarkan badan Rhivan. Ia sangat ketakutan, ia mencoba mempercepat gerkanya, namun…
Hanya anggota badan atasnya lah saja yang menjauh dari lintasan yang pasti di lewati truk tersebut, dan.. sambil memberi klakson, mobil itu pun melintas dengan laju dan Rhivan…
aaaaaaakkkkkhhhhhhh!!!!!!!”teriak Rhivan menjerit kesakitan.


* * *


Drrtt...drrtt...
“Haduuuh.. siapa sih yang telefon malam-malam gini...? Ganggu tidurku aja..”ujar Agnia sambil meraih telefon genggamnya dengan tangan kirinya dengan mata masih terpejam.
Tiba-tiba terdengar suara gelas pecah di samping tempat tidurnya yang membangunkan Agnia dari lelap ngigaunya. Sontak,Agnia pun terperanjat bangun dari tempat tidurnya dan segera menyalakan lampu kamar yang ada di sebelah tempat tidurnya itu.
“SUARA APA ITUU???”
Ternyata Agnia tidak sengaja menyenggol dan menjatuhkan gelas yang ada disamping telefon genggamnya.  Agnia tidak menghiraukan serpihan beling tersebut, ia meraih telefon genggamnya dan memperhatikan dengan teliti layar hp nya.
Tertulis “1 MIssedCall.. Kak Rhivan”.
“Haa..? Kak Rhivan? Ada apa ya kak Rhivan menelfon ku malam-malam begini?”ujar Agnia dalam hatinya dengan kebingungan.
Karena penasaran, Agnia pun menelfon balik Rhivan.
“Hallo...?” sapa Agnia.
“ha..iya..Hallo...??” Terdengar suara seorang lelaki tua yang sudah berumur yang sedang menjawab panggilannya.
Dengan cepat, Agnia menutup telefon nya dan tiba-tiba jantungnya pun berdebar lebih cepat dari biasanya. Ia takut dan khawatir bahwa ayah Rhivan lah yang mengangkat telefonnya tadi.
Dengan terburu-buru, ia kembali membaringkan badannya dan tidur kembali tanpa menghiraukan apa yang telah terjadi tadi.



Duabelas

“HALLO?”
“Hallo tante, ini Jonathan. Rhivan...Rhivan sedang di rumah sakit sekarang..tante tolong datang ke sini ya..iya..dia ter.."” Belum sempat Jonathan menghabiskan kalimatnya, Bu Risma telah menutup telefonnya dengan cepat.
Rhivan hanya duduk di atas tempat tidur di rumah sakit sambil meluruskan kakinya dan menyandarkan punggungnya pada bantal di belakangnya.
“Van..apa kamu tidak apa-apa bila kakimu lumpuh seperti ini? Kenapa kamu hanya terdiam dan terpaku seperti ini?"” tanya Jonathan.
Rhivan tetap terdiam dan tertunduk kaku. Hanya ekspresi kosong lah yang terbesit dari wajahnya. Namun tiba-tiba,suara hentakan kaki yang sedang berlari menghancurkan lamunan Rhivan. Perempuan itu masuk ke kamar Rhivan sambil berlari. Sesampainya di samping tempat tidur Rhivan, sambil menangis, perempuan itu menampar wajah Rhivan yang sedang dalam ekspresi kaku. Bu Risma,tepatnya ibu dari Rhivan yang melakukan hal itu.
“Anak sialan!! Kenapa kamu bisa ceroboh seperti itu?? Biaya rumah sakit itu mahal, apalagi membiayai pengobatan kaki kamu itu!!Kamu tau??berapa biaya operasi kamu itu??berjuta-juta van..berjuta-jutaa....kalau pun kita bisa bayar..kita gak akan makan untuk sebulan..! kamu tau itu??? anak bodoh!!bisanya menyusahkan orang tua saja!! Selalu buat masalah..!” bentak Bu Risma sambil menangis tersedu-sedu.
Rhivan hanya kembali tertunduk, air mata Rhivan mulai mengalir setetes demi setetes.
“Bu..lebih baik ibu tinggalkan Rhivan dulu..dia sedang shock berat bu..tolong..”ujar Jonathan kepada ibu Rhivan.
Sambil menangis, bu Risma keluar dari kamar itu. Setelah Ibu Rhivan keluar,
“Sekarang aku tau,mengapa kamu hanya terdiam dan seperti memikirkan sesuatu sedari tadi...Ternyata ini yang kamu pikirkan. Kamu bukan memikirkan tentang kaki kamu yang tidak akan bisa berjalan ini! Tapi kamu memikirkan bagaimana ibu kamu bisa membayar perawatan yang begitu mahal ini. Rhivan... kamu terlalu baik untuk ukurang manusia biasa.! Kamu juga harus memikirkan keadaan kamu van! Kamu.....kamu seolah-olah merasa tidak ada yang terjadi pada diri kamu van!” Ujar Jonthan dengan nada yang tinggi.
“Bagaiman bisa aku memikirkan hal lain, sedangkan hal besar yang sulit ditangani sedang berada diujung mataku.” Ujar Rhivan dengan nada datar.
Ibu Rhivan memang selalu memperlakukan Rhivan demikian, semenjak Ayah Rhivan meninggalkannya dan bercerai dengan Ibu Rhivan, Ibu Rhivan menjadi bersikap kasar dan sering memarahi anak-anak nya. Karena ia telah merasakan dua kali perceraiyan dalam hidupnya. Itulah yang mengakibatkan ia bersikap demikian. Bahkan, Ridan Kakak dari Rhivan kabur dan pergi dari rumah, memutuskan untuk tinggal bersendirian. Walaupun Rhivan dan Ridan tidak se-ayah, namun mereka tetap akur dan saling pengertian dan menyayangi.
Kakaknya telah menjenguk Rhivan sesaat setelah Rhivan dikabarkan masuk Rumah Sakit, namun ia segera pergi saat tahu Ibu Rhivan akan datang ke rumah sakit. Walaupun begitu, Ridan pun tidak sanggup membiayai perawatan Rhivan.
Sekarang ini, pikiran Rhivan melayang. Berharap akan ada jalan baginya untuk melewati semua ini.
Namun, tiba-tiba terdengar kembali suara hentakan kaki menuju ke arah kamar Rhivan. Namun kali ini dengan ritme yang lebih tenang. Saat pintu di buka, tampaklah wajah tegang nan khawatir yang di pancarkan Rico,teman sekelas Rhivan.
“Rhivan!! Haduuh..gimana keadaan kamu?? ” ujarnya saat masuk ke kamar itu.
Rico menoleh ke arah kaki Rhivan, ada yang aneh dengan dengan kaki Rhivan, seperti tidak bergerak sedikitpun dan sangat kaku..
"Astaghfirullah hal'aziiiim.... Kaki kamu kenapa van?? Apa yang terjadi??” tanya Rico sambil kebingungan.
“Ceritanya panjang kak.. dan kayaknya Rhivan gak mau ceritain hal yang bikin dia kayak gini.” Ujar Jonathan.
“Looh..kok adik kelas ada di sini sih van?? Ngapain kamu Joe di rumah Sakit??” tanya Rico pada Jontahan.
“huuh.. Gak tau ya? Joe yang nemuin kak Rhivan tergeletak di jalanan dengan bersimbah darah di kakinya. Karena panik, ya Joe teriak minta tolong. Dan kayaknya Ibunya kak Rhivan sedang tidur lelap saat itu, jadi dia nggak denger teriakan Joe. Padahal jaraknya deket dari rumah. Waktu kita bawa ke rumah sakit, Kak Rhivan emang udah gak sadarkan diri. Dia pingsan. Terus, Joe hubungin tuh orang-orang terdekat Kak Rhivan pakai telefon genggamnya Kak Rhivan, termasuk kamu dan kakaknya Rhivan. Tapi, kata Rhivan dia gak mau ngasih tau keadaan nya ke Agnia. Gak tau kenapa. Padahal telefonnya udah di angkat lho sama Agnia. Karena Joe kaget, ya udah Joe kasih telefon genggamnya ke bapak-bapak yang ikut nolong kak Rhivan, biar dia yang ngomong. Eeeeh ternyata langsung di mati'in sama Agnia nya. Hahaha....” jelas Jonathan panjang lebar.
“ooooh...”
“oh iya van, Seluruh biaya pengobatan dan operasi kamu udah di bayar kok sama Ayah aku. Jadi gak usah khawatir lagi” ujar Rico sambil tersenyum.
“Haaaa?? kenapa?? Aku gak mau ngerepotin siapa pun Rick, apa lagi kamu..yang udah sering banget bantuin aku Rick!!”
“Akhirnya kamu ngerespon juga... dari tadi dieeem ajaaa...udah gak apa-apa..Aku tau kok gimana keadaan ekonomi kamu..kita kan udah lama kenal..lagian kan gak mungkin uangnya mau di ambil lagi...Hahaha..” Ujar Ricko.
Aku malah menjadi tambah kecewa, hidup ku sudah terlalu menderita. Namun aku tidak mau sampai melibatkan orang lain dalam masalah dan kesulitanku. Biarlah, aku hidup tuk membahagiakan orang lain, bukan merepotkan orang lain. Karena... Aku dilahirkan bukan tuk Bahagia..” Ujar Rhivan dalam hati.
“Van...? Kamu gak apa-apa? Kamu lagi mikirin apa?” tanya Ricko.
“Eng..ng..Nggak..enggak ada kok..” ujar Rhivan terbata-bata.



* * *


Tigabelas


1 BULAN berlalu,
2 JUNI 2010. Setelah libur yang cukup panjang, akhirnya Hari ini seluruh siswa SMP kelas 3 se-Indonesia yang telah menyelesaikan Ujian Nasionalnya akan mengetahui apakah mereka lulus atau tidak.
Pagi-pagi, Agnia telah berangkat ke sekolah seperti biasanya. Namun hari ini ia mulai dengan wajah yang murung. Ia masih ingat kata-kata Rhivan yang apabila ia telah lulus, ia akan pindah ke Jakarta untuk meneruskan sekolahnya.
“Kalau gitu, otomatis Kak Rhivan akan ninggalin aku dong....” Ujar Agnia sambil cemberut dan memajukan bibir tipisnya.
Sesampainya di sekolah, Agnia langsung menuju kelasnya dan menimbunkan wajahnya ke atas tas yang ada di atas mejanya sambil memikirkan hal yang sama. Tiba-tiba,teman-temannya mengejutkan Agnia dan mencoba memberitahu sesuatu padanya.
“Ag!Ag!..Agnia..!” Ujar temannya sambil menggoyang-goyang tubuh Agnia yang sedang pura-pura tertidur.
“Hmm...ada apa...??” Ujar Agnia datar.
“Hari ini semua anak kelas 3 akan menerima kelulusan mereka kan?” Ujar Dewi.
“Iya..Teruus???” Ujar Agnia dengan datar lagi.
“Tapi Kak Rhivan belum datang-datang juga! Padahal udah siang dan udah mau dimulai pengumumannya!” Ujar Dewi dengan serius.
“Haa...??? Yang bener???” Ujar Agnia dengan nada khawatir. Ia langsung menaikan kepalanya dan menatap temannya yang sedang berada di sampingnya itu.
 Agnia langsung berlari keluar kelasnya,melirik ke arah lapangan yang ada dihadapannya dengan mimik begitu khawatir. Dan di saat Agnia sedang sangat khawatir, seseorang menepuk bahunya tiba-tiba.
“Hahahaha....Agnia..Agnia..” Ujar perempuan yang tadi menepuk bahunya.
“Segitu khawatirnya ya kamu sampai secemas ini. Tenang..Pengumuman kelulusan anak-anak kelas 3 bukan sekarang kok. Mereka menerima kelulusan sekitar jam 15:00 gituh. Hahahaha....gak usah tegang banget gitu kali Ag.. Aku kan cuma bercanda.” Lanjut Dewi.
Agnia melirik temannya itu dengan tatapan kecewa, padahal Agnia tahu,bahwa hari ini kelas 3 menerima pengumuman jam 3 sore ini,bukan sekarang. Namun, dikarenakan pikiran Agnia yang sedang kacau hari ini,membuatnya lupa akan banyak hal. Termasuk....
“Ag..kamu beneran sayang ya sama kak Rhivan?” Ujar Dewi.
“Haah?? Ng..Nggak kok..Kita kan cuma temen doang.. Wajar lah kalau temen mengkhawatirkan temen sendiri. Apalagi ini hari yang pasti sangat penting buat Kak Rhivan. Kan...?” Jawab Agnia dengan gugup.
“Mungkin... Hmm..kamu yakin Agnia? Kamu beneran gak ada perasaan sama dia? Jangan sampai kamu menyesal lho di kemudian hari..Hari dimana harusnya kamu bahagia.” Ujar Dewi samabil berjalan meniggalkan Agnia sendirian di tengah lapangan.
Agnia hanya terdiam dan berfikir.
“Aku gak boleh punya perasaan sama kak Rhivan! Gak boleh! Apalagi sampai sayang sama dia! Dia pasti gak ada rasa apa-apa sama aku! Lagian, dia kan udah mau pergi. Jadi aku gak akan mengembangkan perasaan ku ini!” Ujar Agnia dalam hatinya.
Bagaiamanpun lidah Agnia bersilat, hati tak dapat diterka. Agnia sadar bahwa dirinya memang sayang kepada Rhivan,melebihi seorang adik pada kakaknya. Namun Agnia tidak menghiraukan perasaan nya itu, ia tidak ingin sakit hati maupun menyesal telah meninggikan perasaannya itu.


* * *


2 Juli 2008,
Rhivan dan Jonatahan sedang berada di Bandara, karena hari ini Rhivan akan berangkat pulang ke kampungnya di Padang.
“Semoga Agnia tidak tahu bahwa aku pergi ke Padang, bukan meneruskan sekolahku di Jakarta.” Ujar Rhivan.
“Semoga saja van..”
“Van, apa kamu yakin gak mau pamitan dulu sama Agnia?” ujar Jonathan.
“mmm... sepertinya enggak Jo. Aku gak mau terlalu berharap padanya, karena aku yakin dia gak ada perasaan apa-apa sama aku. Jadi untuk apa aku pamitan sama dia, hanya saja....” Rhivan terdiam sejenak.
“Sampaikan salamku padanya ya Jo...” Sambung Rhivan.
“Oke. Aku bakal sampaikan salam kamu ke dia. Tapi bagaimana bila dia ternyata punya persaan juga sama kamu van?" ujar Jonathan.
“........” Rhivan hanya terdiam dan membisu.
Sebuah pertanyaan yang sampai saat ini masih belum Rhivan temukan, membuatnya memikirkan banyak hal.
“ya udah..aku masuk dulu ya Jo. Pesawatnya udah mau Landing nih..”
“Daah.. Suatu hari nanti, kita akan bertemu kembali.. Dalam suasana berbeda Jo..” Teriak Rhivan sambil melambaikan tangannya dengan tersenyum.
“Daah Van...!!” Jawab Jonathan sambil membalas senyum Rhivan.
“Cepat balik lagi ke sini yaa..!!!” Sambung Jontahan.



* * *


“Oh iya...!"
“Haduh..Kenapa sampai lupa ginih..”
“haah.. ya sudah lah.. Nulis buku baru aja lah lagi..” Ujar Rhivan sambil mendesah.
Ternyata, ada benda yang lupa ia bawa dan tertinggal di rumah kontrakan nya. Rhivan lupa membawa Buku Harian nya, buku yang berisikan keseharian dan hari-hari penting yang ia anggap penting selama ini. Mungkin, terdengar sedikit aneh mengetahui bahwa seorang Rhivan menulis buku harian. Namun, ia menulis buku harian karena alasan yang kuat. Ia memiliki keseharian istimewa dan peristiwa-peristiwa penting yang patut untuk di ingatnya, sehingga ia menuliskannya kedalam buku harian.
Rhivan mulai menulis buku harian sejak ia masih kecil. Karena itulah, ia merasa sangat kecewa karena lupa membawa buku hariannya itu.




Empatbelas


Karimun,Riau.9 Juli 2008,

DEAR Diary,
            Buku baru, cerita baru... Dulu, aku cuma menulis gimana hari-hari pahit ku yang aku lewatin itu begitu berat.. But now, I write another topic.. I have some trouble again..
MY LOVE..
Lebih tepatnya, CINTA PERTAMA ku. banyak alasan didalam benak ku untuk tidak mencintai seseorang. Karena kondisi aku yang seperti ini, membuat aku berfikir bahawa oh kalau aku pacaran nantinya, aku gak bisa ngasih apa-apa ke pacarku.. Gak bisa ngantar kemana dia ingin pergi.. Banyak hal lagi yang gak bisa aku lakukan.. Namun, hari itu berbeda.. Aku buka hatiku untuk seseorang. Seseorang yang ku anggap spesial. Satu-satunya orang yang dapat menggetarkan hatiku. Alasan-alasan ku dulu sirna sudah saat melihatnya. Namun, masalahku sekarang adalah...
Cintakah Ia Kepadaku?
Terimakah Ia Dengan Kondisi Ku Saat Ini?
Relakah Ia Melepasku Suatu Saat Nanti?


Saat Rhivan menulis kalimat terakhir di buku hariannya, tangannya terhenti menulis. Ia berfikir sejenak, alasan ia berada di tempat ini adalah agar tidak ada kesedihan saat ia pergi kelak. Namun ia mengharap cinta. Walaupun hatinya tetap merasa ingin merasakan sekali saja bagaimana mencinta dan dicinta.

* * *

“Egoiskah aku bila aku berharap merasakan dicintai? Namun aku juga sadar bahwa bila ia mencintaiku dan aku pergi nanti, ia akan merasakan kesedihan yang teramat mendalam. Aku tidak ingin, orang yang kucintai bersedih teramat dalam karena kepergianku........” Ujar Rhivan sambil merasakan sakit di dadanya.
Kondisi Rhivan mulai memburuk, ia terus batuk dan wajahnya sangat pucat. Ia hanya bisa berbaring di kasurnya karena tak dapat berjalan. Akhirnya Ibunya Rhivan telah mengetahui kondisi Rhivan yang sedang mengidap penyakit akut. Ia tidak tahu sebelumnya bahwa anaknya memliki penyakit yang begitu parah seperti ini. Sekarang, ia hanya ingin membahagiakan anaknya di akhir-akhir nafasnya. Karena Rhivan tidak pernah ingin cerita tentang penyakitnya ini kepada siapapun. Bahkan Ibunya. Tidak ada satupun yang tahu.
Tiba-tiba, Ibu Rhivan masuk kedalam kamar Rhivan dengan ekspresi lesu, seperti ada yang ingin diceritakan.
”Van..sepertinya kita harus pulang ke Rumah kita di Karawang. Ibu sudah tidak sanggup membayar kontrakan yang begitu mahal disini, juga membeli obat untukmu. Kalau kita di Rumah itu, kita bisa mengurangi pengeluaran kita. Bagaimana? apakah kamu setuju van?”ujar Ibu Rhivan.
Rhivan menarik nafas sejenak seakan mencoba bersabar, lalu berkata ”Ya sudah..tidak apa-apa bu.. kalau itu yang terbaik bagi ibu dan Rhivan..tidak apa-apa..”
“Besok kita akan pulang..”Ujar Ibu Rhivan.
“Baiklah..”



Limabelas


“TOLONG pak pelan-pelan..”
“Anak saya sedang sakit..jadi tolong angkatnya pelan-pelan..”ujar Ibu Rhivan terhadap seorang pegawai pesawat untuk menolong menggendong Rhivan masuk kedalam pesawat.
“Terima kasih pak..”Ujar Rhivan tersenyum ramah.
“Iya nak..sama-sama.. lekas sembuh ya..”ujar pegawai pesawat itu..
Raut wajah Rhivan pun berubah tiba-tiba menjadi muram..“Saya tidak janji pak.. Ujar Rhivan didalam hati.
Selama diperjalanan, Rhivan terus memikirkan Agnia. Beribu bayangan kelak yang ada dipikirannya. Dan...sebuah kalimat pun muncul didalam benaknya..
“Aku masih belum tahu bagaimana perasaanya padaku.. Apakah aku tidak mau mencari tahu? Cukup aku mengetahui bagaimana perasaannya, tidak harus membalas perasaanku ini. Aku harus tahu bagaimana perasaanya pada ku. Namun aku tidak mungkin bertanya padanya langsung.. dengan keadaan ku seperti ini. Aku harus minta tolong kepada Jonathan.. Harus.. Untuk menyudahi ini semua..”

* * *

Sesampainya Rhivan dibandara..
Ia menelfon dan menyuruh Jonathan untuk mencari tahu bagaimana perasaan Agnia padanya.
Dengan cepat, Jonathan melaksanakan tugasnya itu. Jonathan menyuruh Agnia tuk datang ke rumahnya sekarang juga. Dan Agnia pun datang kerumah Jonathan..
“Ada apa Joe? Tiba-tiba menyuruh ku datang kesini dengan terburu-buru? Ada masalah apa?”ujar Agnia dengan kebingungan.
Ini permintaan terakhir Rhivan padaku, aku harus berhasil mendapatkan jawaban yang Rhivan inginkan dari Agnia..”Ujar Joe dalam hatinya.
“Langsung saja Ag.. Apa kamu punya perasaan pada Kak Rhivan?”
Mendengar kalimat itu, Agnia tercengang dan terdiam. Sebuah pertanyaan yang sangat dalam maknanya baginya. Bahkan ia pun berkali-kali bertanya pada dirinya sendiri..Apa ia binar-benar memiliki perasaan pada Rhivan...
Agnia kebingungan..ia mengalihkan arah pandangannya kesudut lain. Ia tidak snggup berkata bohong saat menatap wajah Joe.
“ng..ngg..nggak kok. Mana mungkin aku punya perasaan sama orang yang aku anggap kakak ku sendiri..hahahah..ada-ada aja kamu Joe.”Ujar Agnia dengan gugup.
“Apa kamu yakin? Kenapa Ag? Kenapa kamu tidak mau jujur pada diri kamu sendiri? Kenapa kamu tidak dapat menerima bahwa kamu memang memiliki perasaan padanya..apa yang kamu takutkan Ag?”
Agnia semakin terdiam..ia menundukan wajahnya..bahkan air matapun mengalir dari wajahnya.
“Kenapa kamu membohongi perasaan kamu Ag? Apa kamu tidak punya perasaan tuk mencintai? Apakah berdosa bila kamu menyayanginya? Kenapa kamu begitu takut mengakuinya? Kenapa Ag?” Ujar Joe dengan nada sedikit emosi.
“Ak..aku.."
“Aku takut Dia tidak memiliki perasaan yang sama kepadaku..! Aku tak mau sakit hati dan mencintai orang yang tidak mencintaiku..! Aku terlalu takut untuk mencintai seseorang..!! Namun aku akui.. Aku memang mencintainya.. !! Aku sayang padanya.. ! Terus apa? Apakah aku harus bersamanya? Dia tidak mencintaiku Joe..Tidak.. Bahkan ia meninggalkan ku dan pergi jauh dari ku.. Ia tidak berpamitan padaku saat ia pergi, ia tidak pernah memberi kabar padaku.. Ia tidak memperdulikanku Joe.. Tidak..”Teriak Agnia sambil menangis tersedu-sedu.
Air matanya tak terbendung lagi. Agnia menangis dan terduduk tersimpuh.. Ia menangisi perasaannya yang ia kira tidak mendapat balasan..
Jonathan tersenyum. Ternyata ia mendapat jawaban yang diinginkan. Selangkah demi selangkah, Jonthan mendekati Agnia. Dan berkata..
“Ag..kita belum tahu perasaan seseorang sebelum kita bertanya pada orang itu langsung. Jangan kita menyimpulkan sesuatu hanya dengan melihat. Kalau kamu ingin tahu dan mendapat jawaban dari semua ini. Ikutlah denganku..”Ajak Joe.
Tangisan Agnia sedikit terhenti..“Apa dengan ikut dengan mu dapat membuka semua jawaban dari semua ini?”Ujar Agnia.
“Aku yakin itu..”Ujar Joe.
Akhirnya Agnia ikut bersama Joe ke suatu tempat, yang Joe anggap akan dapat menyelesaikan semuanya.
Mereka berhenti di depan Rumah kosong nan mungil.
“Disinilah kamu akan mendapat jawaban dari ini semua..”Ujar Joe.
“Caranya..?”
“Masuklah kedalam..terdapat jawaban yang kan kamu temui..” Ujar Joe sambil memberikan kunci rumah itu pada Agnia..
Dengan perlahan..Agnia berjalan menghampiri rumah itu.. Ia memasukan kunci itu pada pintu dengan perlahan..memutarnya dengan perlahan seakan tidak kuat untuk melihat apa yang ada didalam.. Karena ia akan mendapat semua jawabannya disini. Saat Agnia membuka pintu dan masuk kedalam..
“Hallo..Van..jawaban yang kamu inginkan terpenuhi..Tugasku sudah selesai...”Ujar Jonathan pada Rhivan sambil menitihkan sedikit air mata..
Terimakasih
“Sama-sama van.. Semoga dengan ini..berakhir sudah semua penderitaanmu van..”ujar Jonathan sambil menggas motornya meninggalkan rumah itu dan Agnia.
Agnia pun menoleh kebelakang sejenak..Namun ia kembali fokus memerhatikan seluruh sudut rumah ini.. Ia tidak menemukan apa-apa disini.. Hanya ruangan kosong yang gelap nan kecil. Namun, mata nya langsung terpaku dan tertegun saat melihat tulisan dibalik pintu kamar yang ia lihat. Tertulis..
Rhivan's Room..
Tubuhnya bergetar, Selangkah demi selangkah Agnia mendekati pintu itu.. Ia meraba pintu itu dengan sangat perlahan, tepat pada tulisan itu.. Ia seperti tidak percaya sedang berada di depan kamarnya Rhivan..
Dengan perlahan, tangannya menjulur kearah pegangan pintu. Tangannya sedikit bergetar, merasakan dinginnya pegangan pintu itu. Ia mencoba memutar pegangan itu, dan ternyata tidak dikunci..Suara khas pintu lama pun terdengar nyaring sekali..Membuat Agnia miris mendengarnya. Saat pintu itu terbuka.. Hanya ruangan kosong yang gelap lagi yang ia dapati, ia meraba dinding bagian dalam kamar itu, bermaksud mencari switch lampu kamar itu untuk dinyalakan. Dan ia pun menemukannya, dengan segera ia menyalakan lampu itu. Dan ia pun mendapati sebuah kasur lapuk nan usang tergeletak di bawah kakinya.. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Agnia selama ia masuk rumah ini.  Namun, ia melihat sesuatu.. Dari sudut kiri kamar itu..di atas sebuah meja.. Terdapat sebuah buku.. Dan membuatnya berkata..
“Buku..? Buku apa itu? Kenapa Kak Rhivan tidak membawanya? Tidak seperti barang-barang lain yang hampir semuanya dibawa.” Ujar Agnia heran.
Dengan cepat, ia meraih buku itu.. Ia pun membersihkan dan meniup bagian atas buku itu yang penuh dengan debu. Saat Agnia membaca tulisan diatas Cover buku itu, bibir Agnia bergetar. Seakan tidak percaya ia sedang memegangnya.
Buku Harian
“In..in..ini buku hariannya kak Rhivan? Apakah yang dimaksud Joe sebagai jawaban dari semuanya dalah buku ini? Tapi kenapa?”
Agnia pun membuka selembar demi selembar buku itu.. Air matanya pun tak dapat terhenti saat ia membaca bait demi bait kalimat di buku itu. Sesekali ia sedikit tersenyum walaupun air matanya terus mengalir. Ia seperti sedang membaca kenyataan yang teramat pahit didepannya. Seluruh nya telah ia baca.. Tinggal halaman terakhir yang ia belum baca..


Karawang, 2 Mei 2008

Dear Diary,
            Mungkin inilah puncak penderitaanku, penyakit kanker paru-paru ku kambuh. Namun kambuh saat aku menyebrang jalan. Aku terjatuh, aku seperti tak berdaya tuk bergerak bebas. Dadaku terasa amat sakit sekali..Aku berusaha tuk bergerak dan pulang kerumah. Namun, ini bukanlah puncak penderitaanku. Saat aku merintih berusaha bergerak dan tak kuat tuk berdiri, aku mendengar suara yang menyejukan tubuhku. Badanku serasa dingin menyeluruh..Aku bergetar..Sangat ketakutan.. Lampu yang sangat menyilaukan menyorot tubuhku yang tidak berdaya..Suara klakson yang begitu kencangnya menmbuat tubuhku kaku. Suara itu bagaikan menyuruhku pergi tuk menghindar. Namun, aku tak kuasa tuk bergerak cepat.. Usahaku tuk bergerak menjauhi jalan sia-sia. Mobil itu melindas kedua kakiku. Aku menjerit kesakitan. Lebih sakit dari penyakitku yang selalu kambuh ini. Bahkan membuatku pingsan seketika. Duniaku gelap seketika. Dan aku kira inilah akhir perjalannanku. Namun aku salah lagi, aku terbangun, membuka mataku perlahan seakan tak percaya. Ruangan yang sangat terang, begitu banyak lampu dan bau yang sangat menyengat. Mataku melirik kesekitar, teryata ada temanku Joe disana. Ia sedang berada di samping ku. Aku tak mau terlalu banyak bertanya, yang aku tahu adalah aku ingat kejadian itu. Dan saat aku ingin menggerakan seluruh tubuhku, ada organ yang tak dapat kugerakan. Aku berfikir dan kebingungan. Apa yang terjadi.. Kaki ku.. Kaki ku kaku dan tak dapat ku gerakan, ia mati rasa saat ku pukul dan ku gerakan. Dan disitulah aku menyadari, bahwa . . . .. . " Belum habis Agnia membaca, suara yang begitu asing menghampiri Agnia dari belakang. Seperti suara roda berputar. Dengan cepat Agnia menoleh ke belakang dengan wajah yang dibasahi oleh air mata.

“Agnia..” Suara itu membuat ekspresi wajah Agnia berubah drastis.
Ia begitu kaget dan terkejut, melihat seorang pria sedang duduk dikursi roda tepat dihadapannya.. Pria itu seperti mayat, wajahnya sangat pucat, wajah yang lemah dan bibir yang kering. Air mata Agnia pun mengalir kembali dengan deras sambil berlari kearah pria itu..
Rhivan hanya dapat terduduk dan tersenyum, sambil menangis tak kuasa menahan kenyataan ini. Agnia memeluk Rhivan dengan erat, seakan tak ingin ia pergi lagi.
Agnia hanyut dalam kesedihannya, begitu juga Rhivan yang terharu dengan kenyataan seperti ini.. sekarang ia tahu bahwa Agnia mencintainya.. Sekarang.. apakah Rhivan tahu apa yang akan ia lakukan...
“Ag..Agnia..Agnia sayang sama kakak..!! Agnia cinta sama kakak..!!” Teriak Agnia sambil menangis tersedu-sedu sambil tetap memeluk Rhivan dengan erat.
Rhivan terus menitihkan air mata sedikit demi sedikit, bibirnya bergetar tak kuasa mengucapkan satu patah katapun..
“Kakak juga sayang sama kamu Ag.. Sama seperti kamu menyayangiku.. Perasaan kita sama.. sama-sama takut tuk menerima kenyataan bahwa kita saling mencintai, hanya karena kita takut orang yang kita cintai itu tidak mencintai kita. Sekarang kamu sudah tahu bahwa kakak mencintai kamu, begitu juga dengan kakak yang sudah tahu bahwa kamu mencintai kakak, Namun, inilah yang kakak tidak inginkan, meninggalkan orang yang kakak cintai..”
Tangisan Agnia bertambah kencang.. ia tahu bahwa Rhivan akan meninggalkan nya.. namun ia tidak sanggup tuk mencegah dan berkata apapun lagi..
“Sekarang aku tahu Joe..Jawaban yang tepat untuk pertanyaanmu dulu..bagaimana bila dia ternyata punya persaan yang sama kepadaku..Aku akan menjaga dan membalas cintanya, hingga aku mati nanti.” Ujar Rhivan sambil menitihkan air mata lagi.
Tiba-tiba..
Agnia mendengar detak jantung Rhivan berdetak dengan sangat cepat, lebih cepat dari yang biasanya. Agnia langsung melepaskan pelukannya dan tangisannya pun berhenti. Kesedihannya berbubah menjadi rasa takut dan was-was yang luar biasa..
Rhivan menekan dadanya kuat-kuat seakan merasakan sakit yang luar biasa,seperti tak dapat tuk di tahan.
Sambil menahan rasa sakit, Rhivan ingin mengatakan sesuatu walaupun sangat sulit..
“Ag..Ag..nia..Jag..jaga..lah..cinta..ku..
pad..mu..sep..perti..ak..ku..men..jag..cintamu. . . . .”
Setelah kalimat itu berkahir. Jantung Rhivan terhenti, matanya menutup perlahan dan nafasnya terhenti seketika. Tangan yang sedang menekan rasa sakit didadanya pun jatuh tergulai di atas kursi roda yang dingin. Agnia seakan berada didunia mimpi yang ia tidak percayai.. Ia tidak percaya sedang berada dalam kondisi ini.. Tubuh Agnia lemas seketika..Tatapan kosong dengan pikiran yang melayang.. Seakan ia sedang merasakan kepedihan yang teramat mendalam. Tangisan Agnia pun memuncak..Ia memeluk kuat-kuat tubuh Rhivan yang sudah lemas tak berdaya.. Ia tidak percaya Rhivan telah pergi meninggalkan nya. Saat ia tahu Rhivan mencintainya..ia malah kehilangan Rhivan.. Sungguh..ia tidak sanggup menahan ini semua untuk saat ini.
Agnia terus menangis sambil memeluk Rhivan. Kondisi yang begitu tidak Agnia percayai.. Ibu Rhivan dan Joe pun datang dengan air mata mengalir setetes demi setetes, namun mereka telah mengetahui ini akan terjadi. Jadi mereka sedikit lebih tegar, walaupun air mata tak dapat mereka bendung lagi.. Ridan kakaknya pun mendatangi mereka, ia telah melihat Rhivan saat Rhivan datang kedunia ini.. Dan ia sekarang melihat Rhivan pergi dari dunia ini. Sungguh..Ridan tidak kuasa melihat semua ini..semua hanyut dalam duka dan kesedihan yang teramat sangat mendalam.
“Kak..Agnia akan menjaga cinta kakak..sampai kapanpun...Walaupun kelak..Agnia akan memiliki hidup baru nantinya.. Beristirahatlah disana.. Sudah cukup kakak menghadapi penderitaan yang begitu berat..Penderitaan kakak sudah berakhir sekarang.. I Just Wanna Say, I Love You .. ” Ujar Agnia sambil menangis tersedu-sedu.. Ia mencoba menahan rasa sakit dalam hatinya dengan mencoba sedikit tersenyum...Namun ia tidak bisa. Dan ia pun kembali menimbunkan wajahnya kedalam pelukannya sembari menangis melampiaskan penyesalan dan kepedihannya ini..



* * *










Epilog



“ya udah..aku masuk dulu ya Jo. Pesawatnya udah mau Landing nih..”
“Daah.. Suatu hari nanti, kita akan bertemu kembali.. Dalam suasana berbeda Jo..”
Kamu benar van.. Terakhir kita bertemu, kita bertemu dalam suasana yang berbeda. Suasana yang tak pernah terpikirkan dan terbesit dalam pikiran ku van. Kamu memang baik van. Tetapi kebaikan mu tidak terbalaskan didunia, semoga saja kan terbalaskan kelak nanti.
Dan sekarang aku mengerti mengapa kamu begitu baik van.. Aku selalu teringat kata-katamu van, bahwa..
Aku malah menjadi tambah kecewa, hidup ku sudah terlalu menderita. Namun aku tidak mau sampai melibatkan orang lain dalam masalah dan kesulitanku. Biarlah, aku hidup tuk membahagiakan orang lain, bukan merepotkan orang lain. Karena... Aku dilahirkan bukan tuk Bahagia..namun Membahagiakan...
Kamu benar van, dan aku bangga padamu.. Memiliki sahabat yang sangat baik sepertimu..Cerita hidupmu ini akan kita kenang selalu dan jadikan pelajaran bagi kita semua van.. Bahwa, walaupun cinta tidak harus memiliki namun cinta perlu diungkapkan..